Akad adalah
suatu prikatan atau ijab dan kabul dengan cara yang dibenarkan
syarak yang menetapkan adnya akibat akibat hukum pada objeknya[1] Dalam akad itu
sendiri terdapat rukun , rukun akad adalah :
1. Ijab dan Kabul
Ijab Adalah pernyataan pihak pertama mengenai isi
perikatan yang di inginkan sedangkan Kabul itu sendiri berarati adalah
pernyataan pihak kedua mengenai menerima tidaknya dari tawaran pihak pertama. Adapun
Syarat yang dipenuhi dalam ijab – kabul adala sebagaimana berikut :
a. Ijab Dan Kabul
Harus dinyatakan oleh orang yang tamyis dimana dimaksudkan bahawa orang
yang tamyis ini mengetahui apa yang dia lakukan dan akibatanya seperti apa
.andakan atau bisa dikatakan bahwa dia cakap melakukan tindakan hukum
b. Ijab Dan Kabul
harus tertuju pada suatu objek yang
merupakan objek perjanjian
c. Ijab dan Kabul harus berhubungan langsung
dalam suatu majelis atau di tempat yang sama
dan juga dua belah pihak sama – sama hadir.
2. Sighat.
Sighat Adalah bahasa dimana maksud dari sighad itu
sendiri adalah di ucapkan secar lesan ataupun tertulis dan ada juga yang
mengatakan bisa dengan bahasa isyarat. Ini menjadi penting ketika seseorang
tanpa berbicara , ataupun mempberi isyarat tiba tiba melakukan jual beli itu
menjadi tidak sah dan juga tidak mungkin aa terjadi
3. Al - Ma’qud alaih
Al - Ma’qud alaih .Adalah objek maksudnya adalah
objek atau barang yang diperjual belikan ataupun jasa yang diterima. Secara
garis besar Al - Ma’qud alaih Adalah
objek dari tujuan dari akad itu sendiri.
4. Al- Muta’aqidain
Al- Muta’aqidain. Adalah orang
ber-akad dimana dalam hal ini orang orang yang ber akad harus mempunyai
kecakapan dalam berfikir ( melakukan akad ) tidak timpang atau cacat salah satu
jika hal ini tidak sesuai maka hukum dari akad ijab dan qabul itu sendiri tidak
sah.
5. Maudhu’al’aqad.
Maudhu’al’aqad. Maksud dari hal ini adalah menetapkan tujuan
dalam ijab dan kabul jikalau motiv dari ijab dan kabul itu sudah ter utarakan
maka sah lah ijab dan kabul yang dilakukan namun jikalau motiv yang terkandung
dalam ijab dan qabul itu belum ter utarakan maka bisa tidak sah dalam ijab dan
kabul.
[1] Abdul Ghafur
Anshori, Perbankan Syari’ah Di Indonesia. , ( Yogyakarta : Gadjah
Mada University, 2009 ) Press, hlm 52
Tidak ada komentar:
Posting Komentar