Rabu, 16 April 2014

Akad

Akad adalah suatu prikatan atau ijab dan kabul dengan cara yang dibenarkan syarak yang menetapkan adnya akibat akibat hukum pada objeknya[1]  Dalam akad itu sendiri terdapat rukun , rukun akad adalah :
1. Ijab dan Kabul

Ijab Adalah pernyataan pihak pertama mengenai isi perikatan yang di inginkan sedangkan Kabul itu sendiri berarati adalah pernyataan pihak kedua mengenai menerima tidaknya dari tawaran pihak pertama. Adapun Syarat yang dipenuhi dalam ijab – kabul adala sebagaimana berikut :
a. Ijab  Dan Kabul Harus dinyatakan oleh orang yang tamyis dimana dimaksudkan bahawa orang yang tamyis ini mengetahui apa yang dia lakukan dan akibatanya seperti apa .andakan atau bisa dikatakan bahwa dia cakap melakukan tindakan hukum  
b. Ijab Dan  Kabul  harus tertuju pada suatu objek yang merupakan objek perjanjian
c. Ijab dan Kabul harus berhubungan langsung dalam suatu majelis atau di tempat yang sama  dan juga dua belah pihak sama – sama hadir. 
2. Sighat.  
Sighat Adalah bahasa dimana maksud dari sighad itu sendiri adalah di ucapkan secar lesan ataupun tertulis dan ada juga yang mengatakan bisa dengan bahasa isyarat. Ini menjadi penting ketika seseorang tanpa berbicara , ataupun mempberi isyarat tiba tiba melakukan jual beli itu menjadi tidak sah dan juga tidak mungkin aa terjadi  
3. Al - Ma’qud alaih 
Al - Ma’qud alaih .Adalah objek maksudnya adalah objek atau barang yang diperjual belikan ataupun jasa yang diterima. Secara garis besar  Al - Ma’qud alaih Adalah objek dari tujuan dari akad itu sendiri.  
4. Al- Muta’aqidain
Al- Muta’aqidain. Adalah orang ber-akad dimana dalam hal ini orang orang yang ber akad harus mempunyai kecakapan dalam berfikir ( melakukan akad ) tidak timpang atau cacat salah satu jika hal ini tidak sesuai maka hukum dari akad ijab dan qabul itu sendiri tidak sah. 
5. Maudhu’al’aqad. 
Maudhu’al’aqad. Maksud dari hal ini adalah menetapkan tujuan dalam ijab dan kabul jikalau motiv dari ijab dan kabul itu sudah ter utarakan maka sah lah ijab dan kabul yang dilakukan namun jikalau motiv yang terkandung dalam ijab dan qabul itu belum ter utarakan maka bisa tidak sah dalam ijab dan kabul. 
 
[1] Abdul Ghafur Anshori,  Perbankan Syari’ah Di Indonesia. , ( Yogyakarta : Gadjah Mada University, 2009 ) Press, hlm 52

Tidak ada komentar: